15/10/15

Puisi-Puisi Cinta dan Perjuangan

Judul Buku: Puisi-Puisi Cinta dan Perjuangan
Penulis: Sam Abede Pareno
Pengantar: Akhudiat
Penerbit: Papyrus
Tahun: 2004
Tebal: 103 hlm.
Berat: 99 g.
ISBN: 979-8910-12-9

Harga: Rp.25.000

Keterangan:

Selepas SMA, di tahun 1968, cita-citaku menjadi penulis terwujud. Aku aktif menulis di harian sore Surabaya Post yang akhirnya mengantarkanku sebagai wartawan aktif sampai tahun 1997 dari suratkabar yang satu ke suratkabar yang lain. Dari majalah yang satu ke majalah ke majalah yang lain, mulai Pedoman, Ultra, Aktual, Tempo, Suara Indonesia, Suara Maluku, Jawa Pos.

Usai masa demonstrasi, aku berjumpa dengan orang-orang teater di antaranya Basuki Rakhmad (alm), Anang Hanani, Bambang Sujiyono, Akhudiat, Sudjak Amin, Ratu Fajar, Nono A.N., dan lain-lain. Maka, bergabunglah aku dengan mereka, baik di Teater Merdeka maupun di Bengkel Muda Surabaya.

… 

Aku pun akhirnya menjalin persahabatan dengan banyak penyair dan seniman, di antaranya W.S. Rendra, Syamsuddin N. Daesy, Husein Mulahele (alm), Emha Ainun Nadjib, Agil Haji Ali (yang kemudian mengajakku bergabung dengan suratkabar Mingguan Mahasiswa yang dipimpinnya, 1969), Sabot D. Malioboro, D Zawawi Imron, M. Anis, Ikranegara, Hamsad Rangkuti. Aku menyukai karya-karya mereka di samping karya-karya Sutardji Chalzoum Bahri dan Goenawan Mohamad.

(Dikutip dari “Sebuah Pengakuan” hlm. Viii-ix).

… 

Sam Abede Pareno sebagai wartawan dan penulis yang amat produktif, sudah saya ketahui dan kagumi sejak lama. Ia menulis apa saja; dari berita, features, artikel, editorial, cerpen, novel, naskah drama, cerita/skenario film, sampai disertasi.

Sungguh, saya tidak pernah mengira kalau ia juga menulis puisi. Maka, ketika ia menyiapkan sebuah kumpulan puisi, jadilah surprise buat siapa saja yang mengenalnya.

Bagi saya yang bukan dalam posisi sebagai kritikus sastra, kumpulan puisi Sam Abede ini merupakan folder yang berisi puluhan file tentang suasana batin saat ia merespons berbagai pengalaman dan peristiwa yang ia alami, termasuk yang sifatnya sangat pribadi.

Jadi, untung Sam Abede Pareno juga menulis puisi.

(M. Anis, penyair, wartawan, pelukis).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...